Bereputasi Atau Mati
“What doesn’t kill you makes you stronger. Stand a little taller”.
Sepenggal lirik lagu Stronger (What Doesn’t Kill You) karya penyanyi Kelly Clarkson mengisi narasi pujian atas keberhasilan klub sepak bola Arsenal merebut juara Liga Inggris 2025/2026. Lagu yang dibuat tahun 2011 itu sesuai dengan kiprah klub asuhan Mikel Arteta yang memutus hattrick runner-up di tahun-tahun sebelumnya. Tiga kali gagal merengkuh juara di penghujung kompetisi membuat klub asal London itu menjadi lebih kuat, dan akhirnya…sukses!
Kasus keberhasilan Arsenal hanyalah salah satu dari banyak contoh betapa kegagalan tidak perlu ditangisi berkepanjangan. Penyesalan tidak perlu berlama-lama. Evaluasi dan jadikan itu sebagai cambuk pelecut untuk perbaikan diri yang akan membuat kita kuat.
Namun demikian apakah lirik lagu Stronger solid untuk kita terapkan di setiap aspek kehidupan. Saya cenderung mengatakan tidak!
Walau saya setuju untuk kegiatan seperti keolahragaan, prestasi akademik, perdagangan atau Anda bisa menyebutkan lainnya, apa yang tidak membunuh kita alias kegagalan dapat memperkuat seseorang; yang saya ingin tegaskan, lirik di atas rasanya tidak cocok untuk kepentingan reputasi dan nama baik. Begitu nama baik seseorang, yang telah dibangun dalam jangka panjang, rusak, maka kerusakan itu biasanya sulit kembali. Si pemilik nama tidak mati, tetapi reputasi tersebut tidak lagi sama seperti dulu, bahkan bisa rusak permanen.
Kendati Gaotsi dan Wilson (2001) membuat definisi reputasi melekat pada organisasi, pada skala lebih kecil dan terbatas, definisi itu bisa berguna untuk individu atau kelompok. Disebutkan, reputasi adalah kesimpulan para pemangku kepentingan (setiap pihak yang mempengaruhi) terhadap kinerja atau produk organisasi (individu, kelompok) berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka.
IKComm kerap mendampingi mitra lembaga maupun perorangan yang mengalami krisis reputasi. Salah satu di antaranya adalah sebuah BUMN yang nama baiknya tercoreng akibat tindakan salah satu karyawannya memanipulasi kegiatan pelayanan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kejadian yang jauh dari ibu kota tersebut menyeret perhatian besar masyarakat. Sang Menteri bahkan terpaksa turun tangan memadamkan api yang mulai menghanguskan nama baik si BUMN.
Langkah cepat dan tepat dapat melokalisir kerusakan; dengan membatasi area penanganan dan menghukum pihak-pihak yang bertanggungjawab, krisis dapat dilalui dengan selamat. Hanya saja arang sudah tercoreng, dan dalam beberapa kesempatan, peristiwa itu sempat diungkit kembali saat publik tidak puas pada kinerja perusahaan.
Reputasi adalah tentang pengalaman dan pengamatan. Seseorang yang peduli atau terlibat dengan satu entitas yang dinilainya mempengaruhi hidupnya, akan cenderung memberi penilaian. Baik itu disimpan untuk dirinya sendiri atau bahkan disampaikan kepada orang lain. Di era keterbukaan seperti sekarang, penilaian tentang reputasi dapat tersebar secara cepat dan mudah lewat media sosial. Lebih “hebat” lagi, banyak kasus menunjukkan informasi yang menyebar ditelan mentah-mentah dan digandakan lagi tanpa pandangan kritis dari pihak-pihak yang meneruskannya. Nama baik dari entitas yang diperbincangkan dapat jatuh atau minimal terganggu, walau mungkin saja situasinya tidak seburuk seperti yang digambarkan di unggahan.
Keseharian kita selalu penuh interaksi. Sebut saja dengan manusia, hewan, lingkungan hingga sistem apapun. Misalkan, saat memejamkan mata di malam hari kita bersinggungan dengan kasur, bantal, selimut, kipas angin atau AC atau sekadar jendela yang meneruskan angin malam. Bangun tidur, kita bersentuhan dengan sikat gigi, pasta gigi, dan seterusnya. Berlanjut dengan perjalanan yang membawa kita beraktivitas, kita dapat merasakan sistem kendaraan umum, manusia lain atau percakapan di media sosial.
Puas tidaknya waktu kita bersinggungan dengan manusia lain, benda atau aktivitas-aktivitas tersebut membawa kita pada sebuah kebiasaan yaitu menilai dan memilih. Orang lain pun juga dengan mudah menilai kita. Apakah kita baik, buruk, serakah, dermawan dan sebagainya. Kemudian, dalam skala 0-10, di angka berapa nama baik kita berada? Anda dan saya terkena stempel dengan reputasi tertentu.
Memang sih bisa timbul pertanyaan, ngapain sih mesti repot-repot mengukur reputasi atau nama baik?
Reputasi adalah aset penting bagi korporasi (individu, kelompok) kata Andra A. Hardjana (2013). Masa depan sebuah perusahaan atau lembaga atau karir seseorang terpengaruh oleh reputasinya. Masalahnya, tidak setiap orang atau korporasi secara konsisten menjaga atau memperkuatnya. Proses itu membutuhkan waktu, tenaga dan dana yang tidak sedikit. Konsistensi menjadi tantangan. Saat ini, Kecepatan seringkali dibutuhkan pula di tengah persaingan usaha, ketidakpastian masa depan serta perubahan sosial, ekonomi dan politik yang sangat cepat seperti sekarang.
Reputasi tidak bisa dibentuk secara instan. Sulit memang, tetapi jangan menanti masalah timbul dan membesar. Harga untuk sebuah reputasi atau nama baik sangat mahal; yang pasti, kita bisa bangkit dari kekalahan dalam sebuah persaingan untuk menjadi pemenang di kesempatan berikut. Namun, nama baik atau reputasi yang jatuh karena satu dan lain hal hanya akan menyisakan penyesalan.
Jakarta, 29 Mei 2026.