Emang Gue Pikirin?
Seorang teman bertanya: apakah yang besar dari seekor gajah? Hemmm. Saya merasa semua bagian tubuh gajah besar. Tapi yang menarik tentunya telinganya yang sangat besar. Si gajah bisa mengipasi tubuh dengan telinganya yang besar sekaligus untuk mengusir serangga pengganggu. Telinga! Jawab saya dengan keyakinan penuh.
Salah.
Ehhh?? Apa dong?
Kandangnya. Jawab teman itu dengan rasa bangga yang terpancar di wajah.
Bahhh!!! Emangnya gue pikirin.
Sebuah mobil mewah yang besar, mengkilap, meluncur perlahan di sebuah kawasan pinggiran kota Jakarta. Beberapa saat kemudian jendela sebelah kiri tengah mobil itu membuka dan satu tangan terjulur melepaskan sesuatu seperti tas plastik. Melayang sesaat dan terjatuh di selokan di sebelah jalan. Mobil terus melaju ke arah pusat kota.
Emangnya gue pikirin. Itu kan cuma sekantong sampah. Kecil di antara besarnya ukuran dan aktivitas di Jakarta, Kota Megapolitan. Mungkin itu kalimat di benak si pembuang sampah.
Dua peristiwa di atas memiliki pengikat yang sama yaitu kalimat “emang gue pikirin”. Di peristiwa pertama, emang gue pikirin adalah sekadar ungkapan kedongkolan atas jawaban yang konyol. Hanya sebuah lelucon. Lelucon bapak-bapak (dads’ jokes).
Namun pada peristiwa ke-dua, tindakan pembuang sampah dari mobil merupakan tindakan tidak bertanggung jawab seseorang yang mengabaikan lingkungannya. Kalimat emang gue pikirin sangat pasti muncul dari si pembuang sampah. Orang itu tidak peduli pada lingkungan yang tercemar dan orang lain yang mungkin merasakan dampak atas tindakannya itu. Banjir bisa terjadi akibat sampah-sampah yang menyumbat selokan.
Seberapa serius Anda memikirkan reputasi dan pencapaian diri Anda? Seberapa serius Anda menjaganya?
Sikap publik terhadap seseorang, sekelompok orang atau suatu jenama (brand) ditentukan oleh reputasi yang terbentuk dalam jangka panjang (Argenti, Paul A., 2003). Akan sangat mudah menyebutkan reputasi Argentina, yang menjulang di bidang sepakbola, karena pernah beberapa kali jadi juara Piala Dunia. Atau mengatakan Nokia sebagai perusahaan teknologi yang gagal bersaing dengan kompetitornya Apple dan Android. Susah bagi Nokia untuk bangkit lagi di sektor teknologi komunikasi, ketika masyarakat dunia sudah tidak mempercayai reputasinya lagi, walau di sekitar tahun 2000 an Nokia adalah raksasa. Operating System (OS) Symbian yang jadi jagoan Nokia kalah bersaing dengan OS Apple dan Android. Sekarang Nokia tetap mengeluarkan produk-produk baru yang juga menggunakan OS Android, hanya saja tidak berhasil bersaing bahkan dengan merek-merek China seperti Huawei, Oppo, Vivo dll.
Demikian pula dengan Research in Motion dan BlackBerry (BB)-nya. Menguasai gadget dunia yang melekat dengan pengiriman pesan dan email, BB merasa puas dengan reputasi tersebut serta mengabaikan dunia yang berubah. Layar sentuh Apple dianggap sebagai gonggongan anjing yang tidak akan mengganggu perjalanan puncak kafilah BB. Emang gue pikirin, mungkin itu yang ada di benak para petingginya. Hingga tiba-tiba masyarakat dunia menghukumnya dengan tidak lagi menggunakan BB dan beralih pada para kompetitornya.
Saya teringat fabel kura-kura yang berlomba lari dengan kelinci. Siapa yang tidak kenal kura-kura yang berjalan dengan lambat bahkan sangat sangat lambat. Siapa pula yang tidak mengagumi si kelinci yang memiliki reputasi dapat melompat dan bergerak sangat cepat. Menganggap remeh pesaing atau pihak lain alias emang gue pikirin, menjadi moral cerita tersebut. Kelinci yang santai menjelang finish karena merasa yakin akan mengalahkan si kura-kura dengan lompatannya yang secepat kilat, akhirnya harus menerima kenyataan kalah setelah tertidur nyenyak hingga disalip lawannya.
Menjaga reputasi tidak sekadar mengukur perilaku agar menyenangkan pihak lain. Di era media sosial seperti sekarang, saat ucapan, gestur, unggahan dapat disebarluaskan secara cepat dan mudah, oleh siapa saja, maka menjadi sangat penting menjaga reputasi di ruang publik harus terukur. Hati-hati. Penuh hikmat dan kebijaksanaan. Mulutmu harimaumu atau jarimu (di medsos) harimaumu sering terdengar sebagai peringatan yang relevan saat ini.
Menjaga reputasi adalah hal penting, kalau pun tidak bisa dikatakan yang utama. Memang, tidak ada hubungan langsung dan segera antara reputasi yang terjaga dengan kenaikan keuntungan sebuah korporasi atau kenaikan jabatan seseorang. Namun demikian saat seseorang, satu lembaga atau perusahaan mengabaikan hal-hal yang bisa merusak reputasi, akibatnya bisa relatif cepat dan kritikal. Gubernur Kalimantan Timur contohnya, yang baru-baru ini mengembalikan mobil dinasnya yang berharga sekitar 8 miliar Rupiah setelah mendapat tantangan publiknya sendiri maupun netizen. Usahanya berkilah bahwa pembelian itu sudah sesuai aturan main, tak mampu melindunginya.
Jadi, jangan remehkan hal kecil. Janga pertaruhkan reputasi Anda dengan satu keputusan, tindakan atau ucapan yang sembrono.
Jakarta, 29 Juni 2026.