Joke Bapak-bapak Sebuah Strategi Komunikasi.
“Robocop. Robocop kalau memanggil ayahnya bagaimana?”
Seorang teman menguji saya dengan pertanyaan itu. Saya tahu Robocop film Hollywood yang terkenal di era 90-an. Pertama rilis tahun 1987 lalu dibuat hingga sekuel kedua (1990) dan ketiga (1994). Sempat muncul sebagai film serial televisi. Terakhir dibuat tahun 2014. Eh tapi bukan itu intinya. Pertanyaan apa sebutan untuk ayah Robocop tentu tidak ada di dalam informasi apapun. Tahukah Anda jawabannya? Saya, tidak.
“Robocop memanggil ayahnya Robokap. Sementara ibunya adalah Ronyokap”. Kata teman saya setelah saya menyatakan menyerah. Bokap dan nyokap adalah sebutan bapak dan ibu dalam bahasa slang tahun 90-an. Saya geleng-geleng. Dad jokes alias becandaan bapak-bapak.
Ada lagi. Yang ini saya tonton di sebuah akun IG. “Anak bawang itu sebetulnya terhitung bawang merah atau bawang putih, ya?”
Hmmm. Anda tahu kan istilah anak bawang? Jika tidak, ini kira-kira penjelasannya: saat kecil, ada permainan yang melibatkan banyak orang; contohnya galasin atau petak umpet (anak Gen Z rasanya tidak kenal). Permainan ini setahu saya mengijinkan anak-anak kecil ikutan. Tapi kehadiran mereka tidak berpengaruh. Pokoknya asal mereka nggak merepotkan kakak-kakaknya. Anak-anak itulah yang disebut anak bawang. Istilah lainnya adalah pupuk bawang. Tentu jenis bawang itu, entah merah atau putih menjadi tidak penting. Dasar joke bapak-bapak.
Yang penting ada gelak tawa atau sekadar tersenyum kecut setelah mendengarnya.
Humor, lelucon, atau guyonan menjadi hal penting dalam kehidupan sosial (Kuiper et al, 2005). Bahkan Cekrlija, dkk. (2024) menyatakan humor memiliki relasi positif pada peningkatan kualitas hidup. Dahsyat.
Joke bapak-bapak hanyalah salah satu dari jenis humor yang kita temukan. Banyak yang suka, tetapi tidak sedikit pula yang menyebutnya “garing” alias receh alias tidak bermutu. Setidaknya kehadiran joke bapak-bapak bisa mencairkan suasana dalam sebuah obrolan. Guilmette (2008) menyebutkan humor seperti itu sebagai humor adaptif. Ia ringan dan baik untuk menyegarkan sebuah percakapan. Sedangkan humor yang kasar dan berat seperti sarkasme memerlukan energi tambahan untuk memahaminya disebut sebagai mal-adaptive. Terus terang saya tidak mampu atau sulit membuat lelucon sarkasme.
Apakah joke bapak-bapak bemanfaat dalam meningkatkan hubungan antarpersonal? Bagaimana dalam relasi dengan klien? Apalagi ia bisa digunakan setiap saat?
Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Namun kira-kira begini:
Komunikasi yang efektif mensyaratkan pemberi dan penerima pesan berada dalam frekuensi yang sama. Pesan yang diterima haruslah tidak terdistorsi atas alasan apapun. Penggunaan media penyampai pesan pun perlu nirefek alias lancar jaya. Sekali lagi untuk menghindari perubahan makna saat media meneruskan pesan tersebut.
Sayangnya, pada saat yang sama proses komunikasi tidak selalu seperti jalan tol Cikampek one way contra flow di saat arus mudik. Diskusi antarpersonal selalu dinamis dan kompleks, karena pengirim dan penerima pesan dapat menerjemahkan kata-kata dan sikap tubuh dalam hitungan detik dengan faktor-faktor yang berpengaruh berupa frame of references dan field of experience. Frame of reference adalah latar belakang seseorang yang mempengaruhi cara berpikirnya (biasanya berupa budaya, kepercayaan atau kebiasaan). Sedangkan field of experience adalah pengalaman yang membentuk pengetahuan atau cara pandang tertentu. Belum lagi bila ada gangguan atau noise di tengah-tengah arus pertukaran informasi (Humaizi, Zulkarnain, 2024). Semua faktor yang tidak terkendali dapat mengubah alur komunikasi secara drastis.
Banyak contoh nyata yang menunjukkan bahwa humor ringan bisa mengubah arah perbincangan menjadi positif dan produktif. Mewarnai obrolan berat dengan pilihan lelucon adaptif adalah ice breaker yang tepat. Dad jokes bisa menjadi pilihan yang menghidupkan keakraban dan mengurangi ketegangan. Tahukah Anda, sebuah artikel lawas Newsweek (2017) menulis humor dan kecerdasan memiliki keterkaitan.
Yang perlu diingat, lelucon harus ditempatkan secara elegan saat kita berkomunikasi pada level tingkat tinggi, serta dalam situasi emergency atau sensitif dengan counterpart yang belum sepenuhnya dipahami. Persoalannya menjadi berbeda, saat kita tidak memiliki sensitivitas terhadap lawan bicara dan situasi tertentu.
Komunikasi tidak sekadar berbagi pesan. Apalagi tidak semua lawan bicara memberi feedback atas sebuah lelucon berupa kegembiraan dengan tawa dan seruan senang. Sebaliknya ada kemungkinan timbulnya sikap-sikap lain yang tidak mudah terbaca. Ketegangan baru dapat timbul akibat kesalahan proses komunikasi yang relatif sembrono.
Di tengah situasi dunia yang tidak menentu, tidak jelas, kompleks dan sulit dimengerti (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous/VUCA World), seseorang, sekelompok orang dapat dengan mudah tersulut emosi. Kehadiran lelucon jadi angin segar untuk menurunkan tensi. Manfaatkanlah Dad jokes untuk meningkatkan jaringan persahabatan. Namun bijak memanfaatkan lelucon itu sendiri akan menjadi nilai tambah.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal aidin wal faizin.
Jakarta, 30 Maret 2026