Sayang, …

“Sayang…”

Apakah yang bisa kita maknai dari kata itu? Bisa panggilan untuk orang terkasih. Atau untuk mengawali pernyataan kekecewaan. Bebas bukan? Tergantung konteksnya, dong. Suatu kalimat bijak, penuh kehati-hatian sebelum mengambil kesimpulan.

Kata-kata dan bahasa merupakan bagian dari kebudayaan (Koentjaraningrat, 1980). Sebagai bagian dari hubungan antarmanusia, bahasa merupakan unsur penting alat berkomunikasi. Manusia modern menggunakan kata-kata yang kian kompleks (narasi) untuk menjamin tercapainya tujuan tertentu. Entah ekonomi, sosial maupun politik.

Dengan rasa enggan yang besar, saya mendorong contoh berikut untuk menyambungkan kata sayang dan tujuan berbahasa. Hanya saja, cara berkomunikasi yang belum matang di level yang semestinya memerlukan intelektualitas tinggi menyebabkan atau bahkan menambah kegaduhan di tengah situasi abnormal dunia ini. Seorang pejabat tinggi negeri ini mengomentari posisi gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian kereta yang perlu dipindahkan ke bagian tengah menyusul terjadinya tabrakan kereta yang merenggut nyawa sejumlah korban di Bekasi pada akhir April 2026. Peristiwa itu sendiri berawal dari adanya taksi mogok di perlintasan kereta ditabrak oleh kereta komuter yang kemudian ditabrak lagi oleh kereta lainnya.

“Sayang, …”

Kita bisa menggabungkan kata tersebut dengan narasi tambahan dengan tujuan tertentu. Semisal:

  1. “Sayang, kamu telah meninggalkanku. Beristirahatlah dalam damai. Aku dan anak-anak akan merindukanmu”. Mungkin demikian doa seorang suami yang isterinya menjadi korban tabrakan kereta tersebut.
  2. “Sayang, usulan ibu pejabat itu tidak dipikirkan masak-masak. Pemindahan gerbong khusus ke tengah kan tidak menyelesaikan masalah. Cuma mengganti jenis korban, kan?” Yang ini pandangan kritis terhadap usulan sang Pejabat.
  3. “Sayang, sistem perkeretaapian kita yang sudah jauh lebih ini tercoreng akibat peristiwa ini. Jangan-jangan ini adalah human error yang masih jadi pe er bersama”. Nah, kalau ini pernyataan netral yang tidak ingin menyudutkan pihak tertentu.

Anda mau menambahkan lagi daftar kemungkinan kalimat yang dimulai dengan kata sayang itu?

Kata, narasi, berbahasa memiliki kekuatan. Seorang penulis Britania Raya, Edward Bulwer-Lytton adalah orang pertama yang menuliskan pepatah The pen is mightier than the sword di tahun 1839 dalam dramanya Richelieu. Dengan pena, tulisan, kata-kata, narasi dapat menggerakkan sekelompok manusia, bahkan negara untuk melakukan tindakan tertentu. Dalam banyak contoh, satu pemerintahan tirani pasti bertindak keras pada kaum cendekia yang kritis. Dengan pena pula satu bangsa dapat tumbuh menjadi kekuatan unggul di berbagai bidang. Pendidikan.

Kembali ke soal kata sayang, kita akan berhadapan dengan interpretasinya. Harold Laswell mendefinisikan komunikasi sebagai seseorang menyampaikan sesuatu pada pihak tertentu melalui saluran tertentu dengan maksud yang diharapkan. Definisi itu menunjukkan ucapan seseorang (apalagi yang memiliki posisi tinggi baik jabatan publik maupun swasta) harus matang dengan memperhitungkan siapa audiens dan saluran komunikasinya.

Dengan media sosial (medsos) yang menjadi ruang bicara publik popular saat ini memberikan efek lebih tak terduga ketimbang media massa. Suatu akun medsos dengan mudah mengumandangkan suara pejabat dengan tambahan aksen tertentu memberi dampak mengejutkan. Harapan sang pejabat tinggi memberi kemungkinan solusi akhirnya tidak sesuai dengan efek yang ditimbulkan, karena postingan akun tersebut dimaknai berbeda baik oleh pembuat akun dan audiensnya.

Berkomunikasi tidak sekedar menyampaikan isi hati. Apalagi di era sekarang ini. Bagi seseorang atau sekelompok orang yang mengenal kekuatan kata-kata dan narasi, pesan harus dikomunikasikan secara terukur. Sejak berupa ide, proses penyampaian hingga efek yang hendak dicapai. Oleh sebab itu pemberi pesan/komunikan perlu memiliki pesan kunci berdasarkan data dan fakta, bagaimana menyampaikannya, lokasi, siapa penangkap informasi dan bagaimana amplifikasinya. Setelah itu perlu pengukuran efeknya dengan mengenal siapa saja stakeholder yang mungkin berseberangan atau noise/pengganggu. Dan yang tidak kalah penting adalah seberapa konsisten pesan-pesan tersebut dikumandangkan hingga efek yang timbul sudah sesuai harapan.

Setelah semua pekerjaan rumah itu tuntas, apakah kita bisa memastikan hasil yang positif? Tentu tidak ada yang bisa memastikannya. Namun setidaknya lubang-lubang masalah yang telah terjaga memperkecil kemungkinan timbulnya problem. Selanjutnya, ketidakpastian itulah yang membuat komunikasi menjadi seni, tidak sekedar perhitungan matematis. Itulah menariknya komunikasi dengan semua kompleksitasnya, karena manusia sendiri adalah makhluk yang kompleks; dan di sinilah kutipan dr mantan Ibu Negara Amerika  jadi relevan…

"Jika hidup dapat diprediksi, maka hidup akan berhenti menjadi hidup dan tidak memiliki rasa." -Eleanor Roosevelt

 

Bandung, 30 April 2026

Previous JournalKrisis yang Mengancam Reputasi