How Low Can You Go?

How low can you go? Mendadak kalimat tanya itu terbersit di benak saat saya menghadapi “kekisruhan” saat beradu argumentasi. Dengan tensi yang meningkat, nada suara naik satu oktaf dan urat leher menegang, apakah adu argumen tersebut akan terselesaikan secara elegan atau justru “meledak”?

How low can you go? adalah sebuah iklan rokok di era 90-an. Saat itu televisi masih boleh menayangkannya di jam berapapun, dan menjadi salah satu kalimat ikonik yang melekat pada merek rokok tertentu. Tentu saja kalimat tanya itu mengacu pada rendahnya kadar nikotin dan tar dari si rokok yang hendak ditawarkan ke publik. Maklumlah pesaing si rokok adalah rokok kretek yang pasti kandungan bahan-bahan tersebut berukuran jumbo.

Lalu hubungan kalimat iklan itu dengan adu argumentasi apa?!

Dalam banyak kesempatan kita akan berhadapan dengan perbedaan pendapat. Dua pihak atau lebih akan saling menyampaikan pandangan dan mempertahankannya dengan berbagai argumentasi (Qurratain, 2024). Dari mulai sekadar makan bubur ayam enaknya diaduk atau tidak, atau mana lebih enak tahu atau tempe atau bahkan dalam skala yang lebih rumit, siapa yang salah saat terjadi tabrakan di jalan raya; yang lebih berat lagi adalah ketika masuk ke dalam ranah filosofis atau religi: tentang kebenaran, kebaikan, atau kejahatan.

Satu waktu bertahun lalu dan baru saja bergabung dengan IKComm, ada klien mengundang kami untuk mendiskusikan reputasi lembaga akibat dugaan penyalahgunaan wewenang oleh beberapa anggota direksinya. Rapat yang sangat krusial. Salah satu pesertanya adalah pejabat eselon satu sebuah kementerian. Dalam arahannya, sang pejabat meminta kami menginventarisasi pihak-pihak yang perlu memperoleh penjelasan tentang situasi yang dihadapi. Tujuannya agar para stakeholder memahami duduk perkara dan mengurangi beban psikologis lembaga. Saat itu saya sempat mengutarakan pendapat, yang justru berbeda dengan pengertian sang pejabat. Dalam beberapa kali kesempatan, kami bertukar pandangan di forum tersebut. Kendati situasi tetap terkontrol, atas saran kolega, saya pun menghentikan argumentasi lebih lanjut.

Sebagai penyedia jasa konsultasi komunikasi, IKComm harus menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya saat menghadapi perbedaan pandangan dari klien, media, atau pihak-pihak yang berseberangan dengan klien yang diwakili. Tidak jarang perbedaan pandangan itu cukup tajam, karena IKComm harus meyakinkan klien bahwa pendapat kami benar dan berharga. Dalam konteks hubungan penyedia jasa dan klien, saya memperoleh pelajaran berharga. Tidak selamanya pandangan benar yang dipaksakan itu memberi hasil baik.

Stephen Toulmin (2003) dalam bukunya The Uses of Argument mengingatkan argumen memiliki enam elemen yang diantaranya adalah kejelasan pernyataan disertai bukti yang kuat. Rupanya saya kelewat ketat memegang arahan Pak Toulmin ini. Dalam setiap diskusi bahkan sekadar obrolan santai dengan keluarga atau teman, jika sebuah topik menimbulkan perbedaan pendapat, saya cenderung pasang kuda-kuda. Negatifnya, saya jadi musuh bersama. Obrolan ringan jadi kelewat serius. Bahkan tidak jarang nada suara meninggi sebagai penanda emosi mulai terusik.

Kembali pada pelajaran berharga dalam berargumentasi, Toulmin memang memberikan panduan teori terbaik dalam mengelola penyampaian argumentasi. Dengan tujuan mempertahankan pendapat atau membuat orang lain membenarkan suatu pendapat tertentu, maka setiap argumentasi harus dipertahankan mati-matian (kalau memang punya keyakinan dan data sahih).  Namun berdasarkan pengalaman, tidak di semua situasi saya harus mempertahankan satu argumentasi.

Mengapa?

Ada boundaries, batasan yang tidak dapat dilalui ketika berhadapan dengan hal-hal berikut:

  1. Berhenti di saat emosi mulai terusik. Apapun materi diskusinya, bersama siapapun, kapanpun pelaksanaannya, jangan sampai emosi memperoleh ruang kian besar. Adalah penting untuk mengedepankan kedewasaan berbicara dengan nada suara tetap tenang, dengan bahasa yang tertata dalam sebuah perbincangan yang dalam. Jika ada situasi yang membuat emosi meningkat, sadari segera dan hentikan atau alihkan pembicaraan. Jangan sampai situasi menjadi tidak terkontrol.
  2. Pahami lawan bicara. Beradu argumentasi membutuhkan kejernihan berpikir dan kedewasaan emosi. Pendapat harus terdengar jelas dan terukur cara penyampaiannya. Tidak semua orang mampu menyampaikan dan menerima pendapat dengan ketenangan yang terjaga. Lawan bicara yang dewasa dan terbuka akan membuat adu argumentasi berjalan positif, walau hasil tidak sesuai harapan. Sebaliknya, orang-orang emosional hanya membuat diskusi menjadi brutal yang tidak membawa manfaat apapun bagi siapapun. Lebih sulitnya, jika tipikal yang terakhir ini juga berstatus sebagai klien…

Jadi, maukah Anda merendahkan diri dan menghentikan argumentasi saat tensi situasi mulai naik? How low can you go?

 

Jakarta, 30 Januari 2026

Previous JournalKrisis yang Mengancam Reputasi