Khawatir vs Mitigasi
Dalam hitungan hari kita akan tinggalkan tahun 2025. Pasti banyak yang sudah ancang-ancang untuk menghadapi tahun 2026 berbekal pencapaian tahun ini. Dalam banyak kesempatan, orang seringkali mengabaikan evaluasi dan harus menunggu akhir tahun untuk melakukannya. Padahal, evaluasi sebuah kegiatan rasanya lebih dilakukan sesegera mungkin. Jika ada kelemahan, kita segera bisa koreksi. Mumpung masih hangat di ingatan. Jika tertunda, kita dapat kehilangan momentum dan detil persoalan.
Ah, menunda memang enak. Santai-santai dulu sebelum pekerjaan selesai. Ngopi-ngopi dulu atau sebat, kata seorang teman. Sebat singkatan dari kata sebatang yang merujuk pada sebatang rokok alias merokok dulu. Menyenangkan saat melakukannya. Tapi menjengkelkan jika sudah merasakan akibatnya. Pekerjaan bertambah, karena harus menyelesaikannya dengan masalah-masalah lain.
Soal berancang-ancang tahun depan. Beberapa kali saya membaca dan mendengar istilah VUCA. Tepatnya VUCA world – volatility, uncertainty, complexity ambiguity – dunia yang penuh ketidakpastian, kekalutan, kerumitan dan ambiguitas. VUCA membawa saya pada tiga bidang yang sekian lama saya soroti dalam rangka menjalankan tugas, yaitu politik, ekonomi dan teknologi informasi. Dengan membaca dan berdiskusi dengan banyak kalangan, nyata sekali tiga bidang itu memberi ‘rasa’ berupa besarnya masalah di masa depan. Ada keputusan politik yang mengubah hubungan di dalam dan antarnegara, perang tarif yang bikin harga-harga melambung atau perang yang sebenarnya di berbagai belahan dunia hingga membuat segregasi kelompok-kelompok masyarakat.
Pada satu titik, tiga bidang itu acap menyatu dalam satu keranjang bernama media sosial (medsos). Publik bisa bicara apa saja hampir tak ada saringan di berbagai platform medsos. Apalagi jika bicara politik yang memang dekat dengan sosial dan ekonomi. Hujatan, pujian, kebenaran, misinformasi, marketing atau sekedar lelucon berkelindan tak tertahankan. Belum lagi kehadiran artificial intelligence (AI) memungkinkan pembuat konten mengunggah materi-materi yang “menarik” netizen. Mulai dari yang receh hingga yang serius. Hingga akhirnya muncul istilah baru di kamus Merriam Webster yang ditahbiskan sebagai Word of the Year for 2025, yaitu “slop”. Artinya adalah konten digital berkualitas rendah sebagai hasil produksi AI. Istilah ini menggambarkan kekhawatiran atas meluasnya video absurd dan berita bohong.
Perbincangan tentang AI juga membuat banyak orang waswas terhadap masa depan para pekerja. Sebuah lembaga riset global, McKinsey Global Institute, seperti dikutip CNBC Indonesia (23 Oktober 2025) menulis AI akan menggantikan pekerjaan yang berulang dan mudah diprediksi seperti peng-input data, administrasi serta analis data sederhana. Jumlah pekerjanya pasti tidak hitungan jari, kan? Akankah kita khawatir atau biasa-biasa saja?
Yang pasti kekhawatiran tidak akan membawa kita kemana-mana. Seperti halnya putaran jam, bergerak, tetapi sebenarnya tidak kemana-mana. Jika kekhawatiran meraja, kesempatan yang seringkali tidak nyata di permukaan menjadi sirna. Mata dan rasa tertutup oleh kehawatiran terhadap situasi VUCA dimana-mana. Padahal, kata Albert Einstein, ”In the middle of difficulty lies opportunity” atau kesempatan pasti tersedia di tengah masalah. Salah satunya ya soal AI itu. Pintu tertutup bagi pekerjaan tertentu, namun kesempatan lain terbuka dengan adanya teknologi tersebut. Masih dari hasil penelitian McKinsey, AI disebutkan berpotensi menciptakan nilai ekonomi triliunan dollar.
Mitigasi menjadi jawaban alih-alih membiarkan kekhawatiran berkuasa. Mengapa mitigasi? Kita perlu menghitung, mengendalikan dan meminimalisir risiko sebuah atau beberapa masalah. Apakah dalam mitigasi, kita tidak perlu khawatir? Menurut saya, khawatir tidak salah. Kekhawatiran membantu manusia menyiapkan diri sebelum terjadinya bahaya seperti kehadiran predator, konflik atau sekadar mempersiapkan lahan menjelang musim kemarau. Borkovec (2004) menyebutkan kekhawatiran merupakan usaha diri untuk mengendalikan ketidakpastian. Kalau kita meyakini kehadiran satu ancaman, dari siapapun, apapun, dimanapun atau kapanpun, kekhawatiran adalah titik awal langkah mitigasi.
Yang jadi persoalan adalah bila ancaman itu berasal dari sumber-sumber yang tak jelas, tak terjangkau nalar dan rasanya bisa berdampak jangka panjang. Mampukah kita memitigasinya? Siapa, apa dan bagaimana melawannya? Saat otak terus menerus khawatir dan mempertimbangkan berbagai situasi, seseorang rentan mengalami overthinking. Overthinking atau kekhawatiran yang berlebihan dapat menimbulkan masalah kesehatan, hingga masalah sosial lainnya jika tidak segera tertangani.
Menghadapi tahun 2026 dengan segala ancaman dan kesempatannya, IKComm berharap kita tidak terjebak pada kekhawatiran yang berkepanjangan hingga overthinking. Merangkum beberapa studi dan pengalaman, berikut beberapa langkah mitigasi atas masalah-masalah kita: 1. Peningkatan kompetensi diri sebagai bentuk adaptasi perubahan; 2. Pikirkan dan lakukan langkah penyelesaian satu per satu dalam satu waktu; 3. Olahraga bisa menenangkan pikiran dan tubuh, dan tak lupa; 4. Perbaiki kehidupan Rohani. Penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa sambil terus berusaha dapat memperkuat rasa percaya diri.
Selamat tahun baru 2026. Kalau ada masalah, semoga kita selalu siap memitigasinya.
Jakarta, 31 Desember 2025