Berisik

Apa yang Anda ingat saat masa libur Lebaran? Memang jawaban itu bisa variatif. Mulai dari mudik, silaturahim, liburan, hingga ketupat. Yang saya ingat adalah dua hal yang khas, tetapi bertolak belakang. Pertama, Jakarta dan sekitarnya sepi. Mengutip PT Jasa Marga (Persero) Tbk., kompas.com menyebutkan lebih dari 1,6 juta kendaraan roda dua dan empat meninggalkan wilayah Jakarta Bogor Tangerang dan Bekasi (Jabotabek) pada periode libur Lebaran 21-29 Maret 2025. Jika rata-rata kendaraan membawa 3 orang, maka sekitar 5 juta orang melakukan perjalanan itu. Angka itu belum termasuk pengguna moda kendaraan darat lainnya, laut, dan udara. Sementara Kementerian Perhubungan RI menyebut ada lebih dari 155 juta orang terlibat pergerakan arus mudik. Walau lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya (sekitar 162 juta orang), tetap saja angka itu sangat besar.

Nah kesan kedua yang saya tangkap saat libur Lebaran dan bertolak belakang dengan yang pertama adalah berisik. Lohh??? Ya berisik, tetapi berisik di media sosial. Beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri pesan Whatsapp mengalir masuk. Belum lagi pesan, komentar atau pesan pribadi atau direct message (DM) di Instagram, Facebook, TikTok sangat deras. Pernahkah Anda berpikir berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk menjawab semua pesan itu? Atau karena banyaknya ucapan yang masuk, saya meng-copy paste sebuah pesan tertentu lalu meneruskannya ke pihak lain. Mohon maaf lahir batin ya, jika Anda menerima pesan yang sama dari saya dan orang lain. Yang paling buruk adalah jika pesan terlalu banyak dan menumpuk, ada ucapan yang terlewatkan atau kita kelelahan menjawabnya atau malah enggan sama sekali.

Saya salah satunya. My bad.

Pada masa pandemi Covid-19, dunia termasuk Indonesia mengalami pembatasan ekstrim. Selama dua tahun lebih, interaksi langsung (offline) menjadi minimal. Aktivitas-aktivitas pertemuan berubah menjadi online, virtual alias bertemu di dunia maya. Shalat tarawih, shalat Ied dilakukan di rumah-rumah dan beberapa”disiarkan” secara virtual. Ucapan hari raya dan silaturahmi berubah menjadi salam digital (Darmawan et al, 2020; Fitri Ariana Putri, 2020). Kebiasaan diteruskan walau pandemi telah dinyatakan berakhir. Teknologi digital yang membawa unsur kepraktisan menggeser satu budaya yang telah ada selama berabad-abad.

Selain pandemi Covid-19, ada beberapa hal lain yang mendorong perubahan budaya silaturahmi dari offline menjadi online. Perubahan teknologi yang cepat dan masif mempermudah penyebaran informasi. Pilihan media baru juga menyebabkan manusia memiliki banyak alternatif yang menarik, unik, customized serta “gue banget”. Pesan Whatsapp (WA) jauh lebih menarik ketimbang pesan pendek Short Message Service (sangat terkenal di tahun 90-an sebelum munculnya aplikasi perpesanan). Dengan aplikasi editing untuk menambah bumbu video, music, serta sentuhan efek, seseorang bisa bereksperimen menciptakan karya pesan yang berkesan “edgy” alias kekinian. Belum lagi kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook dan Twitter, yang memudahkan kita dengan hanya sekali menulis postingan, sebarannya mendunia dalam hitungan milidetik.

Pertanyaannya, apakah “berisik”nya pesan silaturahim secara online memiliki nilai serupa dengan ucapan langsung, yang eye to eye, face to face. Sebagai komunikasi yang “miskin”, pesan tulisan tidak bisa menggantikan pesan langsung (tatap muka) yang “kaya”, karena adanya sentuhan, intonasi suara, tampilan bahkan bau tertentu. Westley dan MacLean (1957) menyebutkan komunikasi tatap muka memastikan keberlangsungan komunikasi yang baik, karena adanya umpan balik yang lengkap.

Kendatipun demikian, proses pengiriman ucapan virtual yang telah berjalan sekian lama telah menormalisasi penggunaannya sebagai pengganti silaturahmi. Di bawah sadar, masyarakat kian mengakui pemberian ucapan melalui media sosial adalah hal biasa. Ketika seseorang tidak dapat bermaaf-maafan secara langsung dan tulus, dengan ucapan maaf virtual itu kita pun dapat merasa semua kesalahan telah saling dimaafkan.

Sebagai ketua RT, saya pun memanfaatkan grup pesan WA lingkungan untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025. Saya juga menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga tanpa harus mengunjungi rumah mereka satu per satu. Hampir setiap anggota grup saling bersahutan menyampaikan ucapan selamat Lebaran dan permintaan maaf. That is for real. Memang sangat praktis, walau ponsel ini menjadi berisik sepanjang hari.

Saya jadi teringat masa kecil berpuluh tahun lalu. Tidak berlebaran bukan berarti tidak bisa menikmati kegembiraan saat Lebaran.  Bersama teman-teman sebaya, saya pun ikut unjung-unjung, bersilaturahmi, bersalaman dengan para tetangga yang merayakan lebaran. Diiringi tabuhan bedug dari masjid lingkungan, serta petasan dan kembang api, kami berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Kalaupun tidak mendapat uang, sekedar kue-kue dan ketupat opor merupakan kenikmatan tersendiri yang memorable.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

 

Jakarta, 30 April 2025

Previous JournalKrisis yang Mengancam Reputasi
Next JournalSaya Bisa, Anda Bisa (Menjadi Manusia Patuh Aturan)